GADIS IBU (Chapter 2)
Pencarian
Telah Berakhir
Rasanya aku masih tak percaya dengan cerita Alak
kemarin. Begitu menyesakkan bagiku. Tak terbayangkan bila aku harus bertemu
dengan Ibu. Jangankan untuk memeluknya, memberi wajah dan senyum untuknya
pun aku tak sudi. Yang pernah kutahu,
katanya kasih ibu itu sepanjang masa. Tapi apa yang kudapat? Ia hanya bisa
berbuat dosa dan hendak membuangku. Entah apa maksudnya.
Jangan pernah salahkan aku kalau aku sangat
membencinya sekarang. Tanyakan saja padanya mengapa aku membencinya? Kalaupun
ia khilaf tak sengaja ingin membuangku pun mengapa ia tak pernah mencari
anaknya yang cacat ini? Sudah lima belas tahun lamanya ia tak melihat wajahku.
Sekarang yang ada dalam hati kecil ini hanya Alak dan cita cita besarku. Tak
ada lagi kata “Ibu” di kamus hatiku. Ibu sudah tidak ada lagi definisinya
untukku. Anggap saja aku terlahir tanpa dia. Dan aku tak pernah ingin
mengenalnya! Sudah diremove secara otomatis memori untuk mengingatnya di otak
ini.
Mengetahui kenyataan pahit tentang kehidupan memang
membuat rasa benciku untuknya (ibu) tak terbendungkan.
“Kau sudah tau siapa sebenarnya dirimu Afla?”
Tanya Firki penasaran ketika melihatku sudah tiba di
kelas.
“Haha lebih dari itu Fik”
Firki dibuat bingung hari itu dan iapun tak segan
untuk bertanya lagi.
“Menyenangkan kah?”
“Sangat Fik,
sehingga aku tak pernah ingin mengenal apalagi bertemu dengannya haha”
“Mengapa begitu?”
Firki menyeringai mendengar jawaban congkak dari
teman kecilnya yang dikenal keras kepala ini. Alis tebalnya mengkerut, satu
matanya sedikit terangkat ke atas tanda penasaran. Ia melangkahkan kakinya
segera mendekat ke bangkuku. Tak lain
dan tak bukan hanya ingin mengetahui apa yang membuat teman susah senang
bersamanya ini bersikap macam tadi.
“Kalau sangat menyenagkan, berarti sebentar lagi
kita akan temukan orangtuamu terkhusus Ibumu Af?”
“Oh tidak Fik, pencarian sudah berakhir”
Aku memang pernah bertekad mencarinya mati matian.
Sejak duduk di bangku SMP aku sudah mulai berpikir untuk mencoba membaca dan membongkar kenyataan. Kemanapun dan
kapanpun akan selalu kujabani. Tak perduli panasnya terik, derasnya hujan,
angin topan dan badai melanda. Ironisnya selalu ada cerita dalam setiap warna
dalam pencarianku bersama lelaki yang bak awan menemani langit hidupku ini:
Firki.
***
Malam itu kami beruntung karena cuaca sangat
bersahabat di tengah musim hujan yang sedang melanda negara kepulauan ini.
Sepulang mengaji di mushola kampung, aku dan Firki berniat pergi ke puskesmas
untuk mencari informasi. Karena jam di tangan sudah menunjukan pukul 20.00 kami
sedikit terburu buru dan lupa untuk membawa bekal sebotol air minum. Akibatnya,
tiga setengah kilometer sepertinya harus kami lalui dengan menahan perihnya
tenggorokan yang menusuk. Belum sampai menapak setengah perjalanan aku meminta
Firki untuk menyudahi hal gila ini, mengurungkan niat dan berkunjung ke
puskesmas esok hari saja karena malam sudah mulai larut. Namun Firki menolaknya
dengan lugas dan menatap wajahku dengan tatapan tajam, dua buah bola matanya
terlihat seperti hendak keluar. Aku mengerti dan berupaya mengukir senyum di
bibir wajahku agar Firki tak kesal.
Alasan Firki untuk tetap
melantjutkan perjalanan cukup menguatkanku, kita punya misi lain sepulang
sekolah, kalau pekerjaan malam ini kita tunda
sampai besok, semua misi yang sudah direncanakan tak akan selesai.
Malam terasa mulai meniupkan obat tidur bagi anak
anak, kurasakan dingin mulai merasuki bagian tubuhku yang tak terbalut kain.
Ya, kaki, telapak tangan berhargaku dan wajah mulai terlihat pucat. Ingin
sekali lagi kulontarkan tawaran yang tadi sempat ditolaknya, apadaya aku tak
berani. Aku cukup tahu diri bahwa yang kita lakukan malam ini tak lain demi
tercapainya keinginanku untuk mengetahui asal usul hidup yang sama sekali belum
ada tanda tanda dapat terlihat. Kutanamkan kekuatan seadanya untuk melawan rasa
lemah yang kurasakan, satu kilometer lagi kita akan menginjakkan kaki di pusat
pelayanan masyarakat kampung yang berada di lembah gunung ini, mulai
kutenangkan diriku. Semua ini demi kejelasan keluarga angin samar samar yang sangat
kuharapkan kejelasannya.
“Setelah melewati kebun kol ini akan ada deretan
beberapa rumah yang di ujungnya berdiri tegak bangunan pemerintah itu Afla”
Firki menenangkanku dengan senyum sumringah indah
yang terukir di wajah putih kemerahan warisan gen sukunya yang juga suku Alak
itu. Hm sebenarnya aku juga masih merasa heran mengapa puskesmas yang sangat
dibutuhkan warga malah berlokasi di ujung kampung. Ah, entahlah yang jelas
perkataannya tadi ibarat bara api yang membakar rasa lemahku karena angin malam
daratan tinggi. Meski wajah hitam barat dayaku ini terlihat pucat, aku merasa
lebih semangat walau suhu sekitar terasa semakin menurun. Kupegang tangan Firki
yang masih menjinjing sajadah dengan satu tangan yang kumiliki ini, langkah
kami semakin cepat, akhirnya lintasan kilometer terakhir berhasil kami lewati.
“Lihat
wajahmu, hitamnya tersamarkan karena pucat haha”
Firki tertawa lepas tanpa beban meledekku. Apakah ia
tak merasakan apa yang kurasakan sejak tiga jam lalu? kehausan yang menetap di
tengah kedinginan!
Sampai di ambang pintu puskesmas terlihat bapak
Kepala Pekon yang memandangi kami dengan lamat lamat. Hal itupun diikuti oleh
orang orang yang berada disekelilingnya. Hal tersebut membuatku makin pucat dan
takut, mungkin mereka berpikir untuk apa malam malam buta begini kami kemari.
Mengapa puskesmas ramai sekali malam ini? apakah
wabah penyakit sedang menyerang kampung? entahlah tanpa peduli kulangkahkan
kakiku hendak permisi numpang lewat kepada kepala kampung itu, tapi heran
kenapa ia malah menarik tanganku.
“Hey anak manis, mengapa wajahmu terlihat sangat
pucat? apakah kau benar anak Alak Irsyah? dan kau yang disebelahnya adalah anak
si Badron?”
Aku dan Firki
sontak merasa kaget mendengar kalimat yang diucapkan kepala pekon, tubuhku terasa
semakin dingin namun keringatku menganak sungai. Kami semakin merasa takut
dibuatnya. Apakah kami ketahuan pergi malam malam tanpa pamit?. Pikiranku
kacau, lelah karena berjalan jauh lalu dicampur rasa bahagia karena telah
sampai malah sekarang ditaburi rasa bersalah dan takut ketahuan.
Aku dan Firki serentak hanya menganggukkan kepala
menjawab pertanyaan laki laki gendut berkumis itu. Lalu seraya menundukkan
kepala karena takut menatap wajahnya. Ukiran manis senyum dibibirku raib begitu
saja.
“Lihat wajahmu nak, sangatlah pucat. Apakah kalian
pergi malam begini panik karena sakit? Tapi mengapa kalian tak ijin pada tetua
kalian masing masing?”
Sambil menunjuk ke arah wajahku pria tambun berkumis
itu berusaha mengetahui apa tujuan dua bocah yang malam malam pergi tanpa pamit
ini.
Tanpa mendengar jawaban dari kami yang ketakutan
sejak ia menarik tanganku, tetua desa itu melanjutkan kalimatnya.
“Tahukah kalian orang satu kampung panik mencari
kalian nak? Bahkan Alak Irsyah hampir pingsan untuk memaksakan berjalan
menyusuri ulu jalan berharap menemukan kalian, dan ternyata kalian menuju
kemari”
Astaga, apa yang telah kulakukan. Aku telah membuat
bapak tua angkatku itu terlewat panik, yang padahal aku tahu kesehatannya
sedang tidak bersahabat. Bahkan kata bapak ini Alak hampir pingsan, oh maafkan
aku Tuhan, telah menyusahkan dan membuat khawatir Alak dengan pergi larut malam
tanpa pamit.
“Baiklah, kalau kalian hanya ingin berobat kesini
berobatlah. Biar aku tunggu dan antarkan kalian pulang ke rumah nanti”
“Tapi kami kesini bukan untukk......”
Kalimat Firki terhenti setelah aku menyubit
lengannya. Aku tak mau banyak orang tahu dan ikut campur dengan masalahku.
Bagus kalau mereka tak tahu dan tak mencibir kelakuan konyol yang kita lakukan
ini.
“Bukan untuk apa?”
Dengan menarik satu alisnya ke atas bapak kepala
pekon itu merasa ingin tahu lanjutan kalimat yang ingin dikemukakan Firki.
Namun dengan tanggap aku menjawab.
“Bukan untuk apa apa kok pak melainkan kami kesini
hanya ingin meminta vitamin dan imun gratis agar kami tak gampang sakit”
Aku terpaksa berbohong dengan kepala pekon, dengan
orang orang yang ada disitu, dan dengan diriku sendiri.
Dengan perasaan kesal bercampur malu kami berdua
masuk puskesmas dan langsung menuju tempat yang kami maksud sesuai dengan
perkataan dustaku tadi.
Aku mengetahui kekesalan yang terlihat dari raut
wajah Firki, pasti ia sangat marah dan kecewa padaku. Tapi harus bagaimana
lagi? aku tak ingin banyak orang mengetahui permasalahanku.
Setelah kami mendapatkan sepaket vitamin gratis dari
puskesmas, kami langkahkan kaki menuju motor gerobak milik pak kepala pekon
tadi. Dinginnya malam semakin terasa menusuk karena motor gerobak yang
dikendarai presiden desa itu melaju sangat kencang. Kusembunyikan tanganku di
balik jilbab dan kutarik androkku sampai bisa menutupi seluruh kaki. Kulirik
wajah Firki yang masih sangat terlihat kesal denganku. Ia sama sekali enggan
untuk berbicara. Jangankan untuk membuka mulutnya, menoreh ke arahkupun tidak.
Pasti ia sangat geram denganku karena perjalanan panjang malam ini tak
menghasilkan apa apa.
Lima setengah kilometer jalan tandus berbatu dan terjal
terasa sangat sebentar dibandingkan saat kami berangkat tadi. Setelah gonjlang
ganjling diatas kendaraan ini akhirnya
kami tiba tepat di depan gubuk reot milik Alak. Kulihat wajah keriput Alak
lengkap dengan matanya yang berkaca kaca seperti habis menangis. Jahatnya aku
malam ini telah melakukan banyak kesalahan. Pertama, pergi tak bilang Alak
sampai membuatnya khwatir dan merepotkan semua orang. Kedua, berbohong dan yang
ketiga membuat temanku yang rambutnya hitam lebat seperti iklan shampo ini
kesal dan tak mau menegurku. Entah berapa lama ia akan marah pada temannya yang
tak tau dibantu ini. Semua yang terjadi malam ini bermula dari sifat sok tahu
dank eras kepala yang kumiliki. Ah entahlah
***
Lain halnya dengan musim liburan setelah ujian
kelulusan SMP usai. Hari ini terlihat cerah sekali, mentari dan angin terasa
kompak bersahabat menyelimuti kampung kami. Aku absen membantu Alak mencari
sampah plastik bekas di TPA. Sedangkan Firki libur sehari membantu ayahnya
berjualan bubur keliling kampung. Misi ini memang sudah kami rencanakan lama
sebelum ujian sekolah dilaksanakan. Hari ini kami akan beranjak turun ke kota
dengan tujuan yang sama, yakni mencari informasi tentang keberadaan keluargaku.
Firki sudah berada di depan rumahku lengkap dengan
pakaian terbaik yang ia miliki, kemeja lumayan bagus yang di beli di tempat
pakaian bekas bulan puasa tahun lalu. Dipundaknya sudah menyangkut tas ransel
yang terbuat dari bekas karung goni dan tangannya terlihat memegang stang
sepeda bututnya. Rupanya ia tak mau kehilangan rupiah yang susah payah ia cari
dengan naik mobil sayur ke kota, melainkan turun ke kota mengendarai sepeda tua
warisan almarhum kakak sulungnya waktu masih remaja dulu.
Begitupun
denganku, aku tak mau terlihat buruk di wajah orang kota. Setidaknya, terlihat
rapi dengan pakaian sederhana yang menurut kami istimewa, hasil jeri payah mengumpulkan sampah plastik
menjelang lebaran tahun lalu. Tak lupa kepang dua ala karakter kartun
nacha sudah menetap dikepalaku. Kami
bersaliman dengan Alak lalu mengucapkan salam dan bergegas berangkat. Kali ini
kami tak ingin hal seperti dua tahun lalu terjadi, merepotkan orang sekampung.
Di atas sepeda tua, kami melewati jalan terjal
sebelum masuk jalan yang sudah dibalut aspal menuju kota. Tak jarang aku harus
turun karena temurunan yang berbahaya jika aku tetap diboncengnya. Hampir
setengah hari waktu yang dimakan untuk turun dari bukit ini.
“Fik, sebenarnya kapan kita sampai?”
“Itu dia jalan aspalnya, Fla, sebentar lagi kita
sampai”
Sembari menunjuk jalan aspal, Firki menenangkanku
yang dari tadi gelisah dan selalu berulang kali berisik bertanya kepadanya.
Roda sepeda tampak lebih senang berada di atas aspal
dibandingkan tanah berbatu yang juga terjal sebelumnya. Terasa kendaraan tanpa
bahan bakar yang kami tunggangi ini melintas lebih kencang. Dan akhirnya kami
sampai di pasar kota.
Kami kebingungan mencari tempat yang kami tuju.
Firki menyuruhku untuk turun sebentar dan bertanya pada ibu ibu yang
mencangking dua keresek bersama balita cantik dibelakangnya. Sayang seribu
sayang ibu ibu itu sangat angkuh dan congkak, ia malah mengira aku pengemis dan
mengusirku untuk menjauh darinya. Belum lagi anaknya menunjuk nunjuk ke arah
bagian cacatku, ya lengan baju tanpa tangan kiriku. Kejam sekali ibu yang
rambutnya hasil rebonding salon itu. Aku kesal dan sedikit mendesis karena
perlakuan ibu tadi. Namun Firki malah tertawa dan menyuruhku untuk cepat naik
ke sepedanya lagi.
“Itu bapak bapak tukang parkir, ayo kita tanya dia
saja. Mungkin ia akan lebih ramah daripada ibu congkak tadi”
Wajahku masih terlihat kesal saat menunjuk ke arah
tempat parkir yang telah berdiri pula petugas parkir yang kami maksud.
Assalamualikum, maaf pak kami mau bertanya. Apakah
bapak tau dimana letak warung internet di pasar kota ini?” Tanya Firki kepada
tukang parkir dengan santun.
“Oh, ada banyak nak. Yang terdekat yakni disebelah
kanan photocopy Amir. Kalian tinggal jalan lurus kira kira 100 meter dari sini
saja kok” Jawab tukang parkir yang memegang peluit di tangan kirinya itu.
Aku menarik nafas dan tersenyum lega mendengar apa
yang dikatakan tukang parkir. Ya, tempat tujuan kami tak jauh dari tempat kami
berdiri disini, tinggal mengikuti jalan sepanjang 100 meter. Kunaiki lagi jok
boncengan sepeda Firki. Setelah aku bilang siap, tanpa komando Firki segera
mengayuh sepedanya membelah jalanan kota.
Sampai di photocopy yang dimaksud bapak tadi, kami
menoreh ke kanan bangunan photocopy nan megah itu. Tertuliskan besar besar
dengan huruf kapital “WARNET BIANGLALA” nama yang amat unik untuk sebuah warung
internet. Dengan langkah berani tanpa ragu kami memasuki warnet tersebut dan
menghubungi mbak mbak servernya. Ditunjukkinya beberapa paket lamanya kita akan
menggunakan jasa komputer yang telah
terhubung dengan koneksi internet itu. Aku dan Firki dengan serentak tanpa aba
aba menunjuk paket paling dasar yakni paket 1 yang tertera harga senilai tiga
ribu rupiah.
Kami diantarkannya ke sebuah bilik kecil tempat
dimana kami harus duduk. Lalu dengan baik hati petugas warnet tersebut
memberikan petunjuk dan membantu kami menyalakan komputer yang padahal sudah
pernah diajari oleh Pak Rusdi di sekolah. Lima lentik yang kumiliki sedikit
bergetar saat hendak menyentuh keyboard, begitu juga dengan Firki yang hendak
memegang mouse komputernya. Setelah komputer tersebut menyala, dengan tangkap
Firki langsung mengklik dua kali gambar globe berapi yang dibawahnya terdapat
tulisan mozilia firefox di layar dekstop. Setelah itu keluar tulisan besar
“Google” dan dibawahnya terdapat kotak mesin pencari.
Sial, hal penting tak terpikirkan sebelumnya di
benak kami. Apa yang akan kami ketik di kotak mesin pencari, sedangkan kami tak
mengetahui petunjuk apapun tentang keluargaku. Kami bingung dibuatnya, saling
pandang satu sama lain, mengisyaratkan kebingungan dan betapa bodohnya kami.
Setelah berpikir lama aku pun bertanya pada
Firki.“Bagaimana kalau ketik saja nama lengkapku disana” Kataku dengan wajah
penuh harap namaku dapat memberi petunjuk pada google.
“Ide bagus”
Firki menyahut dengan tangkas dan langsung
mengetikkan namaku disana “Afla Nirdana” lalu ia tak ragu dan langsung mengklik
kata cari di kotak dialog tersebut.
Waktu berubah menjadi amat lambat saat menunggu loading
berjalan. Dalam hatiku berdoa semoga ada petunjuk dengan namaku itu. Setelah
menunggu akhirnya simbol loading itu berhenti. Namun sayang yang muncul dari
request pencarian itu hanyalah link sosial media orang lain dan tidak ada sama
sekali hubungannya denganku.
Aku mendesis kecewa dan sedikit menyesal, mengapa
aku tak mencari tahu dulu nama ibu atau ayahku sebelum memutuskan untuk pergi
kesini. Penyesalan memang selalu datang di akhir, namun di kamus kami berdua
tidak ada pekerjaan yang dilakukan dengan usaha ikhlas berujung dengan kata
“sia sia”. Kami memanfaatkan waktu yang tersisa dengan mencari materi pelajaran
sekolah dan mencari informasi tentang hobi dan cita-cita kami.
Aku mengetik kalimat “Bagaimana langkah menjadi
seorang desainer busana yang handal” . Melalui kalimat itu banyak pelajaran
yang dapat kuambil. Salah satunya adalah pensil gambar yang biasa digunakan
untuk menggambar desain, yakni “Rapido” namun sayang mahal harganya dan aku
bercita cita dapat membelinya dengan kerja keras bantu Alak berapa tahun
kemudian, karena untuk bayar uang sekolah sajapun kembang kempis memikirkannya.
Sedangkan Firki sesuai dengan cita citanya menjadi
novelis terkenal ia mencari informasi yang berhubungan dengan kepenulisan.
Disana, ia juga mengalami kesulitan yakni penerbit tak mau menerima naskah
cerita dengan tulisan tangan melainkan dengan ketikan atau dokumen yang dikirim
melalui email. Sedangkan Firki hanyalah ketrunan orang asli yang tinggal di
daratan tinggi kaki gunung tak punya alat semacam komputer dan laptop. Untuk
dapat menulis dan menggambar desain saja kami berdua bekerja sama membantu
tukang bersih bersih sekolah untuk membersihkan kantor guru. dari sanalah kami
mendapatkan media yang kami inginkan. Yakni kertas hvs bekas yang tak terpakai.
Walaupun tak ada kertas yang kosong, setidaknya kami bisa menuangkan imajinasi
kami dibalik kertas yang berisi tulisan tulisan itu.
Tak terasa waktu di billing menunjukan hanya tersisa
lima menit lagi, Firki langsung menutup jendela informasi seluruh dunia tersebut
dan kami beranjak untuk pulang kerumah. Kami sampai dirumah malam hari,
walaupun dengan segudang kekecewaan karena tak mendapatkan petunjuk apapun,
kami tetap bersyukur bisa belajar online disana walau tak lebih dari enam puluh
menit.
Alak yang melihat wajahku selintas, seperti sudah
mengetahui kejadian yang kami hadapi. Ia tersenyum dan seraya berkata “Sudah
kubilang cerita yang sering Alak lantunkan untukmu itu benar nak”. mendengar
perkatannya wajahku langsung sinis dan tersenyum sebelah bibir.
***
“Apakah kau sudah bertemu dengan orangtuamu Af?”
Dengan girang Firki malah bertanya seperti itu lagi
padaku, akupun hanya menggelengkan kepala. Namun ia penasaran dan tak menyerah
bertanya lagi.
“Lalu mengapa pencarian ini harus kita akhiri?”
“Karena aku sudah tahu jawabannya Fik! Tak usah kita
susah payah untuk mencarinya lagi, aku tak akan sudi!”
“Hah? Mengapa begitu? apa jawabannya dan mengapa kau
tak sudi untuk mencarinya lagi?”
Firki tak menyerah sampai aku menjawabnya. Namun
lonceng sekolah telah berbunyi sebanyak tiga kali menandakan waktu belajar
segera dimulai.
“Ah, sudahlah, bel masuk suda berdering Fik, ayo
sana kembali ke bangkumu! Sebentar lagi Pak guru akan datang”
Komentar
Posting Komentar