GADIS IBU (Chapter 1)
Seluas
Jagat Raya
“Siapa sebenarnya aku Alak?”
“Mengapa
aku bisa bersama Alak?”
“Dimana
orangtuaku?”
Alak yang duduk di
sudut geribik tua hanya tersenyum mendengar seberondong pertanyaan yang
kulontarkan. Emosiku memuncak, bibirku bergetar, kulempar keresek berisi bekas
kaleng cat ditanganku sampai mengenai dandang priuk tak bersalah yang
tergantung di paku bengkok sampai jatuh ke alas tanahnya. Serbuan air yang
jatuh dari langit semakin deras, kencangnya angin malam menyelinap lewat sela
sela geribik yang bolong dan langsung menyelimuti
seisi ruangan beratapkan daun jerami ini, yang tak segan mengajak bulukudukku untuk terangkat. Nafasku sedikit tersendat,
badanku mulai menggigil kurasakan antibodi yang mulai melemah dan lambung yang
berteriak minta makan pada tuannya. Keadaan malam yang semakin beku tak
berhasil merayuku untuk menyudahi rasa penasaran ini. Aku tak akan pernah
berhenti bertanya sebelum rasa penasaran ini pecah terburai dan aku puas. Kali
ini aku tak mau kalah dengan tatapan dalam mata Alak dan senyum keriput di
wajah lugunya itu. Kulontarkan lagi pertanyaan yang sama dengan volume lebih
tinggi agar Alak membuka mulutnya untuk menjawab. Tapi, cara kunoku itu tak
sama sekali berhasil, Alak tak sedikitpun menggerakkan bibir tuanya itu untuk
bicara. Kuulangi lagi sampai aku sendiri bosan mendengarnya. Kulihat paras
wajahnya yang kedinginan, ia seperti hendak menjawab. Aku makin penasaran. Jantungku berdetak lebih kencang seperti habis
lari maraton seharian, nafasku sedikit tertahan, rasanya telinga sudah memasang
ancang ancang untuk membuka gendangnya lebih lebar. Saat yang kutunggu tunggu
sejak setelah isya’ tadi, akhirnya ia bicara.
“Sebaiknya kau tidur Afla, malam sudah semakin
larut, lagipula cuaca malam ini tidak begitu bersahabat. Kau tentu tidak ingin
terlambat ke sekolah kan? Tidurlah nak”
Mendengar perkataan
Alak yang tidak sama sekali kuinginkan. Tidak seperti yang kuharapkan dan tidak
sama sekali sinkron dengan semua pertanyaanku, rasa penasaranku berubah menjadi
sebuah kemarahan besar. Semua kekesalan yang tersebar dari ujung kaki sampai
ujung kepala berkumpul dalam satu kepalan tangan paling berhargaku ini. Ingin
rasanya aku melangkah mendekatinya dan langsung menonjok Alak sampai bibirnya
berdarah. Tapi karena tingginya rasa hormatku atas semua yang telah ia berikan,
atas semua usaha yang ia lakukan demi aku, ku urungkan luapan gila emosi ini.
Ku berlari menuju kamar tidurku tanpa pamit. Membawa serta segunung rasa penasaran, kekesalan dan
kemarahan. Kurebahkan tubuhku di atas dipan alot tanpa kasur yang dibuat
sendiri oleh Alak. Yang juga berhasil membuatku sangat kecewa malam ini. Perasaanku
hancur sejadi jadinya, air mataku deras mengalir tak terhenti. Hanya guling
kumal lah yang mau mendengarkan curahan kekesalan ini.
Sebenarnya aku hanya
ingin tau tentang kenyataan asal usul hidupku. Bukan cerita karangan macam
sutradara sinetron yang selalu Alak lantunkan sebelum aku tidur! Aku sudah
beranjak remaja saat ini, sudah kuputar dan ku pilah isi kepala ini. Aku tak
mungkin percaya lagi dengan cerita yang berisi bahwa aku bayi tak bertanagan
kanan yang ditemukan di jalan dekat rumahnya, tengah malam lima belas tahun
lalu. Ia bilang bahwa aku kedinginan, hanya ada selimut sebagai bulu
pelindungku malam itu. Berteriak tangis melengking melonglong di dalam kardus
bekas supermi. Alak yang saat itu berstatus duda tak beranak sangat bahagia
menemukanku, lalu ia merawatku. Mungkin aku percaya dan menelan mentah mentah
cerita yang hampir setiap hari ku dengar itu. Tapi maaf Alak, tidak untuk
sekarang. Aku bukan bayi kardus.
Cuaca malam ini mungkin
sangat cocok dengan suasana hatiku. Kilat, petir dan derasnya hujan sudah
persis sekali dengan keadaan hati. Aku masih tak habis pikir dengan sikap Alak.
Entah apa yang dipikirkan Alak diuar sana, apakah ia akan tetap mau
merahasiakan asal usul gadis angkatnya ini? Atau mungkin telinganya sudah
dibisikki oleh red devil agar ia tak jujur? Entahlah.
“TOK TOK TOK” Lamunan
seudzonku terhenti mendengar suara pintu kamar yang diketuk. Alak mengetuk
pintu kamar sembari memanggil manggil namaku. Tapi tak sama sekali ku acuhkan
hal itu, aku masih sangat kecewa dengan sikapnya malam ini. Sangat sangat
kecewa.
“Baiklah Afla, kalau kau memang benar benar ingin
mengetahui hal itu, Alak akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi kau harus
berjanji bahwa kau tidak akan menyesal mengetahuinya. Maka besok sepulang kau
sekolah akan Alak ceritakan”
Kalimat Alak yang
terdengar barusan menggugah seluruh jiwaku, keringatku langsung mengucur
ditengah dinginnya malam seperti ini. Dadaku semakin sesak jantungku seperti
sangat tau isyarat kebahagiaan. Ku hapus air mata yang mendarat di pipi cabiku.
Aku mulai tersenyum, ini adalah jawaban keindahan yang ku tunggu. Kutolehkan
wajahku ke arah pintu tanpa membukanya dan seraya berteriak “Oke Alak aku
janji”.
Kalimat tawaran janji
yang di ucapkan Alak tidak hanya membuat aku girang. Pengaruhnya dapat
mempertebal voltase mataku yang padahal telah lelah bekerja mengeluarkan air
daritadi. Sudah kupastikan malam ini aku akan terjaga sampai pagi datang. Fokusku
pada jam wekker yang santai berdiri di atas meja. Satu detik bagai satu jam,
semenit seperti sehari dan untuk melewatkan satu angka pindah jam aku seperti
menunggu selama satu bulan. Lama sekali menunggu pagi. Aku sudah tak sabar.
Belum lagi aku harus melewati trayektori kewajibanku sebagai pelajar. Sudah
barang pasti di sekolah aku tak akan fokus untuk belajar.
***
Benar saja, di dalam
kelas aku sama sekali tak memperhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh beberapa
guru yang sudah silih berganti seiring dengan bergantinya mata pelajaran.
Beruntungnya, hari ini tak satupun guru melemparkan pertanyaan kepadaku. Janji
Alak semalam benar benar membuatku kenyang, rasa lapar yang memekik semalaman
tak kurasakan hari ini, dua kali istirahatpun aku enggan untuk keluar kelas.
Alak seperti sudah menyihir anak angkatnya yang cacat ini.
“Afla, kau sedang jatuh cinta ya?” Firki yang merasa heran denganku yang sedari
tadi melamun dan selintas senyum senyum sendiri lantas melemparkan
pertanyaannya untukku.
Pertanyaan Firki
membuatku terperanjat, gelak tawaku pecah. Ia semakin bingung denganku. Setelah
kurasa cukup tertawa, segera kujawab pertanyaanya. Kujelaskan padanya bahwa aku
tak sedang jatuh cinta. Melainkan aku sudah dibuat gila oleh janji Alak
semalam.
“Jadi, sebentar lagi kau akan tahu siapa nama
orangtuamu La?”
“Mungkin bisa lebih dari itu Ki, doakan saja semoga
kenyataan tak begitu menyakitkan”
Akhirnya bel pulang
sekolah berdering juga. Aku semakin tak sabar. Langsung kujinjing tas belacu
ini dan berlari keluar gerbang sekolah.
“Afla, Afla, Afla tunggu aku”
Tak kuperdulikan suara
Firki yang serak basah itu berteriak memanggil namaku. Yang ada dipikiranku
saat ini hanyalah janji Alak. Aku harus bergegas pulang ke rumah dan siap untuk
menyimak cerita yang sudah Alak janjikan.
Sebelum mengetuk pintu
gubuk reot ini aku berhenti sebentar. Nafasku terengap engap, peluhku
bercucuran, perasaanku sungguh tak karuan. Kucoba untuk menstabilkan degub
jantung yang berayun kencang sejak tadi, tapi tak kunjung berhasil.
Kemana Alak? mengapa ia
tak menjawab salamku? Aku mulai cemas dengan keadaan. Apakah ia kabur? Dan tak
ingin menempati janjinya? Prasangka buruk sudah menyelimuti seluruh isi hati
yang tak karuan ini.
Ya ampun, aku lupa,
mungkin Alak masih berada di TPA sekarang. Yah, aku harus menjemputnya dan
mengajaknya pulang. Kutinggalkan tas sekolah di atas amben bambu depan rumah,
lalu segera bergegas lari ke tempat sampah raksasa yang terletak di pojok
kampung.
“Alak!”
Seruku saat kumenemukan
lelaki paruh baya yang berada di balik tumpukan sampah tempat seluruh bakteri
gila berkumpul ini. Saat menoleh ke arahku Alak benar benar merasa kaget.
“Hey anak manis kenapa kau kesini? Tunggu Alak
dirumah saja nak, sebentar lagi juga Alak kembali. Coba lihat, baju dan rok
sekolahmu itu, sudah kotor tak karuan”
“Tidak Alak, kita harus pulang sekarang!”
Tanpa banyak cincong
aku langsung menarik tangan Alak dan membawakan karung berisi sampah anorganik
hasil jeri payahnya sejak pagi tadi.
Sampai di rumah
langsung kubuka pintu buduk yang dikunci dengan tali kawat ini. Kutarik tangan
Alak masuk rumah dan kuajak ia duduk di atas tembikar hasil buah tangannya
puluhan tahun lalu.
“Ayo Alak, cepat! cepat ceritakan! cepat katakan
janji Alak semalam!”
Aku memaksanya untuk
cepat menempati janjinya semalam. Aku sudah tak sabar lagi. mataku terarah pada
wajah tuanya. Kubuka telingaku lebar lebar dan ku pegang tangan kasarnya dengan
kuat. Rasanya seperti menunggu detik detik pengumuman ujian sekolah. Sungguh.
Rasa penasaranku pecah.
Tapi yang terjadi berbeda. Tak seperti yang aku harapkan sebelumnya. Hatiku
remuk berkeping keping, air mataku jatuh deras tak tertahankan membasahi putih
abu abu yang kukenakan. Kenyataan yang sebenarnya begitu pahit kurasa. Tak
sanggup aku membuka mulut untuk bilang terimakasih pada si tua yang menyelamatkanku
itu. Sekejam kejamnya perampok, ini berpuluh kali lebih kejam.
Mulut tua keriput itu bilang bahwa aku benar adalah
anak angkatnya yang diserahkan Ibuku lima belas tahun lalu. Namun hal yang
paling membuat hati ini tersayat jadi empat bagian adalah ketika kudengar
alasan mengapa Ibu menyerahkan bayi tak bertangannya ini pada Alak. Nasib
orangtuaku bak Romeo & Juliet bahkan
sama seperti Laila Majnun kisahnya. Ibu yang asalnya dari keluarga
terhormat bercinta dengan Ayah yang sebatang kara merantau ke kota sebagai
kernet bus. Orang tua Ibu murka dibuatnya, apalagi setelah mendengar bahwa ibu
sudah mengandung aku. Tanpa segan tak berdosa, orang tua Ibu memberi mandat
pada anak buahnya agar segera membunuh Ayah. Naas, tajamnya pisau antagonis
menancap di perut Ayah, lalu Ayah pun meninggal sebab itu.
Dan Ibu? apakah ia
pantas dipanggil seorang Ibu? Setelah mengetahui kenyataan bahwa orang tuanya
begitu, ia hampir meninggalkanku sendiri di
tempat sampah rumah sakit. Alak yang tak sengaja melihat perlakuan ibu
menahannya dan akhirnya setelah beberapa menit terjadi dialog eyel eyelan
antara Ibu dan Alak, Ia menyerahkanku
pada lelaki tua yang tak sengaja lewat di lorong rumah sakit dekat tong sampah
itu.
Lantas kuputar otakku yang tak begitu runcing ini. Mengapa ia hendak
meninggalkanku? Apa karena aku cacat? Atau takut orangtuanya tak terima dengan
keadaanku? Mengapa ia sempat memutuskan untuk meninggalkanku sendiri, sebelum
akhirnya ditahan Alak? Dahsyat sekali hal yang akan dilakukan wanita yang
melahirkanku waktu itu. Mengapa sebenarnya? Apa motifnya? Apakah ia menyesal
aku lahir? Atau menyesali kalau aku cacat? tak suka denganku dan menyerahkan
kewajibannya pada Alak? bukannya ini
karena ulahnya sendiri? berusaha membuat
aku mati tapi yang terjadi aku malah hidup namun cacat. Sungguh, cintanya pada
Ayah memang tak pantas untuk dipertahankan, kesetiannya meragukan. Kalau begini
aku malah sudi disebut bayi kardus. Tak kubayangkan kalau aku bernaung bersama
wanita itu. Mungkin aku hanya dianggap kotoran dimatanya. Kejam sekali ia, tak
terpikirkan sebelumnya kalau aku punya Ibu seperti ia. Saat ini seluruh jiwaku
sudah sepakat untuk menanamkan rasa benci untuknya. Kalau kau ingin tahu
seberapa bencinya aku? Ukur saja seluruh jagat raya ini! Seluas itulah
kebencianku padanya.
Keren ih
BalasHapusAmatiran ini
Hapus